“ REFLEKSI RAMADHAN BAGI ORANG YANG BERTAQWA”
Oleh:
Otib Satibi Hidayat
Intisari Makna Ramadhan
Ramadhan yang didalamnya begitu sarat dengan ibrah/pelajaran bagi kita, memesankan beberapa hal kepada orang-orang yang tulus ikhlas beribadah di dalamnya, dengan pesan-pesan sebagai berikut:
orang yang bertaqwa kepada Allah harus pandai mengendalikan diri dari segala bentuk hawa nafsu, sebagai cerminan keberhasilannya menjalankan ibadah puasa/shoum
orang yang bertaqwa kepada Allah harus berpedoman hanya pada Al Qur’an dan Sunnah dengan segala konsekuensinya, sebagai wujud nyata dari tilawah dan tadarus Qur’an selama bulan Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus memiliki rasa empati (mampu merasakan penderitaan orang lain), sebagai tindak lanjut dari rasa lapar dan hausnya berpuasa dibulan Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus menjadi orang yang dermawan, sebagai kelanjutan dari kebiasaan beramal sodaqoh selama bulan Ramadahan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus selalu menjaga kesucian dirinya dari segala macam kotoran kehidupan dunia, sebagai perwujudan dari kesucian diri kita dalam menjaga ibadah puasa Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus menjadi ahli ibadah, sebagai konsekuenasi dari terbiasanya kita memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus memiliki sifat solidaritas yang tinggi kepada sesama muslim khususnya, sebagai cerminan dari ibadah zakat fitrah yang kita keluarkan, dalam rangka berbagi kebahagiaan di hari idul Fitri.
Tuntutan Allah Pasca Ibadah Puasa Ramadhan
Manusia telah dituntut oleh Allah SWT untuk senantiasa meluruskan kehidupannya sampai saat kematian menjemputnya hanya pada ajaran dan jalan Allah semata. Allah berfirman dalam (Q.S. Ar Ruum (30) : 43): ..
Artinya:
”Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu pada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari (Kiamat) yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah ( ada yang di surga dan ada yang di neraka)”
Ayat ini mengisyaratkan bahwa akhir dari kehidupan ini perlu diupayakan oleh kita semua, apakah kita akan memilih surga atau neraka? Sebelum waktu penyesalan tiba kepada kita semua. Hal yang menarik dari ayat ini adalah Allah mencantumkan suatu pernyataan bahwa hari kiamat yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun. Tampaknya Allah SWT sangat faham dengan karakter manusia yang suka menunda-nunda untuk berbuat baik, melalaikan kesempatan beribadah, menyia-nyiakan usia, hanya karena terpengaruh oleh derasnya pengaruh kehidupan dunia. Tidak sadarkah kita hadirin yang berbahagia, bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, kita lahir kedunia ini tidak berdaya, tidak tahu apa-apa, kalau bukan karena kebesaran Allah mungkin kita bukan siapa-siapa.
Allah berfirman dalam (Q.S. An Nahl (16) : 78) ;
Artinya:
”dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia Allah memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur”
Hal yang menarik dari ayat di atas adalah bahwa Allah SWT telah memberikan 3 piranti dasar bagi setiap manusia untuk dijadikan media dalam rangka meningkatkan kualitas dirinya sebagai manusia, yaitu penglihatan (mata), pendengaran (Telinga), dan hati nurani. Pertanyannya adalah mengapa Allah SWT memberikan ketiga piranti tersebut? Ini yang patut kita renungkan sebagai orang yang mau berpkir, bahwa tidak mungkin Allah memberikan ketiga hal tersebut jika tidak memiliki kandungan makna yang mendalam.
Dalam pandangan ilmu psikologi perkembangan, mata adalah organ tubuh yang memiliki peranan penting dalam menangkap berbagai informasi baru yang dapat direkam, menjadi memori dan selanjutnya akan membentuk pengetahuan yang disimpan didalam sel-sel otak manusia. Dari situlah manusia memiliki ilmu pengetahuan berdasarkan peranan dan fungsi penglihatan.
Telinga adalah salah satu organ tubuh yang juga memiliki peranan dalam menangkap berbagai informasi melalui sistem pendengaran, yang selanjutnya informasi tersebut diproses dan disambungkan kedalam sistem otak manusia. Oleh sebab itu betapapun manusia tidak dapat melihat, namun melalui fungsi pendengarannya, akan tetap memiliki kemampuan untuk memiliki ilmu pengetahuan.
Sedangkan keberadaan hati nurani yang Allah berikan kepada kita, adalah sebagai puncak dari sistem jaringan informasi yang diperoleh baik melalui penglihatan maupun pendengaran, yang mampu mendorong seseorang melakukan sesuatu. Hati lah yang mengolah dan mendorong apakah kita akan berbuat suatu kebaikan ataukah keburukan.
Jadi seyogianya ketiga organ tersebutlah yang seharusnya kita kelola, kita kendalikan, jangan sampai tidak termanfaatkan untuk kebaikan.
Hadirin dan hadirot yang berbahagia, janganlah kita berbuat sesuatu yang mengundang murka Allah akibat salah memfungsikan ketiga amanat tersebut. Sebab Allah SWT berfirman dalam (Q.S. Al Isro (17) : 36) :
Artinya :
”Dan janganlah kalian mengikuti sesuatu yang kalian tidak ketahui, sebab pendengaran, penglihatan, dan hati nurani itu semua akan dimintai pertanggung jawabannya.”
Formula Memelihara Hikmah Ibadah Ramadhan
Renungkanlah ancaman Allah dalam hal tersebut bahwa: Pada hari perhitungan amal manusia, di hari itu Allah akan kunci mulut kita, Allah akan membuat tangan kita bicara, serta kaki kita akan menjadi saksi terhadap apa yang kita lakukan selama di dunia ini.
Ramadhan pun sebenarnya telah Allah sediakan sebagai waktu khusus untuk bertaubat bagi hamba-hambaNya yang berdosa dan ingin kembali mensucikan diri. Anjuran Allah bagi kita agar memiliki waktu-waktu khusus untuk beribadah, mensucikan diri, seperti ramadhan telah banyak Allah sampaikan didalam Al Qur’an, diantaranya Allah berfirman (QS. Al Mujammil (73) : 8) :
Artinya:
”Dan sebutlah asma Allah, serta beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan.”
Makna yang dimaksud dari ”watabattal ilaihi tabtiilaa”, menurut ahli tafsir memiliki maksud adalah:
Artinya: ”memutuskan segala urusan apapun dan menfokuskan/mengkonsentrasikan diri hanya untuk ibadah, serta memelihara perasaan larut dalam pengawasan Allah SWT.”
Bagaimanakah dengan kita, apakah telah memiliki dan mengatur waktu khusus untuk beribadah kepada Allah? Apakah ramadhan yang beberapa saat telah kita lewati, sudah kita jadikan waktu khusus untuk beribadah?
Hidup dalam naungan Al Qur’an begitu indah rasa dan nikmatnya. Tapi apakah keindahan dan kenikmatan tersebut pernah kita rasakan? Bukankah Allah juga menurunkan Al Qur’an kitab yang suci dan petunjuk kebenaran itu di malam bulan ramadhan? Sering kita mendengar dan merayakan malam nuzulul Qur’an, tetapi apakah yang kita dapatkan dari perayaan tersebut telah membuat kita menjadi seorang ahlul qur’an? Yaitu orang-orang-orang yang senantiasa membaca, mempelajari dan mengamalkan isi al Qur’an. Mungkin saat ini kita sudah merasa sempurna dalam memeluk Islam hanya dengan memenuhi rukun Islam yang 5, dan dengan membaca al Qur’an saja. Kita masih malas mempelajari kandungannya, bahkan terkadang kita suka menghindar untuk mengamalkan isinya.
Renungkanlah firman Allah dalam (Q.S. Az Zuhruf (43) : 44) :
Artinya:
”Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kalian akan dimintai pertanggung jawabannya.”
Ternyata sikap, kepedulian, dan kedekatan hidup kita dengan Al Qur’an itu akan menjadi salah satu hal, yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. Mudah-mudahan Allah mewariskan Al Qur’an ini kepada kita semua. Untuk itu janganlah kita mendzalimi diri kita sendiri, dan senantiasa lebih mengutamakan berbuat bagi.
Rasulullah SAW bersabda, diriwayatkan oleh Bukhori & Muslim:
Artinya:
”Barang siapa yang menegakkan sholat di bulan Ramadhan dengan iman dan menghisab diri, maka itu akan menghapus dosa-dosa sebelumnya.”
Telah kita ketahui semua bahwa, rasul Muhammad memberikan jaminan apabila kita mampu melaksanakan sholat di bulan Ramadhan, maka hal itu akan menghapus dosa-dosa kita sebelumnya. Prinsip dasar hadits ini sangat menarik untuk kita kaji bersama, bahwa sholat yang dimaksud adalah sholat yang dilandasi dengan keyakinan yang mantap (al Imanul Amiq) dan kemampuan berintrospeksi diri (muhasabah). Dua hal yang secara nyata telah diprediksi oleh rasul Muhammad bahwa hal itu amat sulit didapati pada diri seseorang ketika beribadah sholat. Banyak orang mampu melaksanakan sholat wajib maupun sunnah, tetapi akhlaknya tidak mencerminkan kandungan ibadah sholat. Kenapa hal tersebut bisa terjadi?
Kita terkadang lupa bahwa nabi Muhammad dan para sohabatnya sering menjadikan sholat sebagai media untuk mengadukan berbagai persoalan hidup. Huzaifah Ibnul Yaman pernah mengatakan bahwa jika rasul ditimpa perkara yang hebat dan berat, maka beliau menjadikan sholat sebagai penolong dirinya.
Bagaimana dengan kita, sudahkah melaksanakan sholat seperti beliau dan para sohabatnya? Potret pelaksanaan sholat diantara kita, masih diwarnai dengan sekedar mengugurkan suatu kewajiban, kurang tuma’ninah, tergesa-gesa, dan terkesan ingin cepat selesai.
Ingatkah kita dengan sunnah rasul Muhammad dalam masalah sholat tersebut, bahwa beliau pernah bersabda:
Artinya:
”Saat yang paling dekat antara hamba dengan Kholiqnya adalah diwaktu sujud, maka perbanyaklah kalian berdoa disaat tersebut.” (H.R. Tirmidzi)
Ada fenomena sosial yang kurang baik dikalangan ummat Islam pada saat setiap kali merayakan lebaran. Diantara kita ada yang secara sengaja atau tidak dan diakui atau tidak, ingin mearayakan lebaran dengan sesuatu yang baru. Dimulai dari pakaian baru, kendaraan baru, dan bahkan mungkin ada bisikan setan yang menghendaki agar kita merasa bangga, nyaman, tentram dengan masalah harta. Merasa sedih jika lebaran tanpa harta dan kemewahan. Secara tidak disadari, setan mendorong kita untuk pamer dengan apa yang kita miliki dihadapan orang lain.
Allah SWT berfirman dalam (Q.S. At Takatsur (102) : 1 – 8) bahwa sebaiknya kita jangan berbangga dan bermewah-mewahan yang berakibat kita lalai mengingat kematian, lupa akan halal dan haram, dan mengecilkan arti perhitungan dan azab Allah SWT.
Dalam hal ini ingatkah kita pada suatu hadits rasul, yang mengatakan bahwa:
Artinya:
”Tidak henti-hentinya berdiri setiap manusia dihari perhitungan, sampai mendapatkan 4 pertanyaan: yaitu (1) tentang umurnya untuk apa dihabiskan, (2) tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, (3) tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia belanjakan, (4) dan tentang jasadnya untuk kepentingan apa dia fungsikan. ” (H.R. Tirmidzi)
Cobalah sejenak kita perhatikan kenapa rasul menjelaskan bahwa ketika manusia ditanya tentang hartanya rasul menyebutkan 2 sub pertanyaan kepada setiap manusia, yaitu: (1) dari mana dia dapatkan dan (2) untuk apa dia belanjakan.
Menurut para ahli hadits, hal ini memberikan isyarat bahwa rasul faham betul dengan karakter manusia yang pada dasarnya mudah tergoda dengan harta dan gampang lupa dengan urusan halal dan haram dalam mencari harta tersebut. 2 sub pertanyaan tersebut akan dapat memberatkan kita di akherat, jika kita serakah membabi buta ketika mencari harta.
Berkaitan dengan paket ramadhan pun sebenarnya Allah berfirman dalam (Q.S. Al Baqoroh (2) : 188) : menjadikan salah satu ciri keberhasilan seseorang dari ibadah puasa ramadhannya adalah: tidak memakan harta dengan cara yang bathil, dan tidak melakukan risywah (sogok-menyogok).
Wallah a’lam bi Showab.
Daftar Pustaka
Al Gazali. Menebus Dosa. Bandung: Pustaka Hidayah. 2006
________. Ihya’ Ulumiddin. Semarang: As Syfa’.1990
Hamka. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.1988
Husaini Bahesyti, Muhammad. Intisari Islam. Jakarta: Lentera Basritama. 2003
Masyhur, Mustafa. Fiqh Dakwah. Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat. 2004
Qordhowi, Yusuf. Fiqh Shiyam. Jakarta: Gema Insani Press. 2003
______________. Fatawa Qordhowi. Surabaya: Risalah Gusti. 1996
Shale. Et al. Asbabun Nuzul. Bandung: Diponegoro. 1982
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar