“MANUSIA MAKHLUK TERGANTUNG”
Oleh:
Otib Satibi Hidayat
Pendahuluan
Ayat yang pertama kali diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah tentang perintah membaca. Salah satu esensi dari perintah tersebut, manusia diminta untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui pengkajian pada diri manusia itu sendiri yang pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam kondisi tergantung.
Makna tergantung dalam konteks dan redaksi surat Al Alaq tersebut memiliki pemahaman yang sangat universal dan patut kita pelajari. Kajian pada kesempatan ini akan menggunakan pendekatan agama maupun ilmu psikologi perkembangan manusia.
Tadabbur surat Al Alaq ayat 2
Allah SWT berfirman didalam surat Al Alaq ayat kedua, yang artinya:
“Telah diciptakan manusia dalam kondisi tergantung/menggantung.”
Secara kontekstual sesuatu yang tergantung apapun itu wujudnya, tentu mata kita dapat menerjemahkan bahwa kondisi tersebut sangat rentan, sangat rawan, dan dalam posisi yang lemah, karena mudah terjatuh.
a. Pandangan Ilmu Psikologi Perkembangan
Bila hal itu kita hubungkan dengan ilmu Psikologi Perkembangan manusia, ternyata pada masa perkembangannya manusia mulai hidup sebagai janin dimulai dari masa Konsepsi. Pada masa ini segumpal daging atau “’alaqoh” dalam istilah Qur’an itu ternyata dalam kondisi menempel pada dinding rahim seorang ibu yang sedang hamil. Janin tersebut akan tumbuh dengan sehat mengikuti tahapan normal itu sangat tergantung pada Plasenta sebagai salah satu organ tubuh pensupley sari-sari makanan yang berasal dari yang ibu makan. Dalam proses ini benarlah Allah yang mengatakan bahwa sejak awal manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang tergantung dalam kondisi dan posisi apapun, seperti gambaran tersebut di atas.
Selanjutnya kita kaitkan kajian ini pada tahapan masa beberapa saat setelah kelahiran atau lebih dikenal dengan istilah Neo Natuse dalam Ilmu Psikologi Perkembangan. Pada masa Neo Natuse seorang anak manusia yang baru lahir ke dunia amat sangat berbeda dengan kondisi anak hewan atau binatang. Tanpa banyak mendapatkan bantuan yang berarti, seekor binatang yang baru lahir ternyata jauh lebih berkemampuan bila dibandingkan dengan anak manusia yang baru lahir. Anak manusia lahir membutuhkan pertolongan dokter atau minimalnya bidan dari kalangan paramedis. Agar dapat menjadi tumbuh dan berkembang, seorang bayi manusia sangat tergantung dari supleyan air susu ibunya. Bahkan agar mampu menjadi manusia normal dan berperadaban, setiap kita sangat bergantung pada orang lain seperti orang tua, guru, dan lingkungan di sekitarnya. Itulah hakikat manusia yang terkadang kita sangat jarang merenungkannya.
Seorang Plato bahkan berani mengemukakan teorinya tentang kehidupan manusia dengan istilah Zoon Politicon (manusia adalah makhluk yang tergantung kepada sesamanya/orang lain). Dengan demikian tepatlah kita menjadi pemeluk Islam, yang ternyata dalam ajarannya mampu membuktikan kebenaran hakiki yang teruji baik dari pendekatan dan disiplin apapun wujudnya.
b. Pandangan Ilmu Al Qur’an
Allah SWT berfirman didalam Al Qur’an surat An Najm ayat 39 yang artinya: “ dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh apapun selain apa yang dia telah usahakannya”
Ayat ini mengisyaratkan bahwa kemerdekaan hidup manusia itu Allah serahkan kepada diri manusia itu sendiri. Apakah mereka akan menjadi golongan orang-orang yang selamat atau sebaliknya. Apakah mereka akan memilih masuk surga atau neraka, semua itu tergantung pada apa yang manusia itu sendiri lakukan.
Apabila manusia menempuh jalan yang positif maka di dunia pun telah Allah siapkan sebagai upahnya sesuai kemampuan manusia itu sendiri. Demikian Allah jelaskan hal tersebut dalam surat Al An’am ayat 132, yang artinya: ” dan masing-masing manusia memperoleh derajat (prestasi) seimbang dengan apa yang dikerjakannya.”
Demikian juga dengan manusia yang senantiasa ingin memperturutkan hawa nafsunya, itu pun adalah otoritas dirinya sendiri. Allah hanya memfasilitasi hidup dengan dengan piranti keras dan lunak yang komprehensif. Manusialah yang harus memilih apakah dirinya akan dikotori oleh dosa atau sebaliknya. Allah berfirman dalam surat Al An’am yang artinya: “dan tidaklah seseorang membuat dosa, melainkan kemudhorotannya kembali kepada dirinya sendiri.”
Betapa besar rahmat dan kenikmatan dari Allah SWT, yang dianugrahkan kepada manusia di dunia ini, namun jalan untuk menikmatinya itu adalah tergantung pada pilihan manusia itu sendiri, sebagai makhluk yang diberi kebebasan.
Pelajaran yang dapat diambil
Sesuai dengan tujuan utama dari diturunkannya ayat pertama, Allah memiliki maksud agar manusia jangan sampai salah memilih jalan hidup. Allah tetap berharap agar manusia dapat menjadi makhluk yang benar-benar sempurna yang sengaja Allah ciptakan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Namun pada akhirnya hal itu semua kembali kepada diri kita masing-masing.
Hikmah yang dapat kita petik dari kandungan surat Al Alaq ayat kedua tersebut adalah:
kita ternyata bukan siapa-siapa, kita hanyalah makhluk yang sangat lemah/dhoif
kita sangat tergantung kepada orang lain dalam segala hal
kita tidak akan berdaya upaya jika tanpa keberadaan orang lain
kitalah yang menentukan pilihan apakah diri kita akan tergolong orang-orang selamat ataukah celaka
kita juga tidak akan dapat menghindar dari risiko, apa yang telah kita pilih dalam hidup di dunia ini.
Rasul Muhammad pernah bersabda dalam Hadits dari Abu Musa Al Asy Ari, yang artinya: ”Perumpamaan orang-orang yang berdoa (berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdo’a, adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhori)
Sikap positif yang harus kita miliki dalam kondisi seperti ini adalah selalu berusaha dan berdo’a dengan tetap memelihara kedekatan diri kepada Allah SWT dalam setiap keadaan dan kesempatan (Quwwatu Shilah Billah).
Karena hanya dengan hal seperti itulah diri kita akan tetap terkontrol, terjaga, termotivasi, terbimbing, dan terarah pada jalan yang diridhoi Allah SWT.
Dalam kondisi seperti ini, hati kita akan senantiasa hidup dengan sentuhan ayat dan petunjuk Allah, dan tidak seperti orang-orang yang jauh dari Allah yang hatinya akan mati, keras membatu, dan tidak mudah menerima kebenaran dari Allah.
Wallahu a’lam bis showab
Daftar Pustaka
Al Gazali. Menebus Dosa. Bandung: Pustaka Hidayah. 2006
________. Ihya’ Ulumiddin. Semarang: As Syfa’.1990
Hamka. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.1988
Husaini Bahesyti, Muhammad. Intisari Islam. Jakarta: Lentera Basritama. 2003
Masyhur, Mustafa. Fiqh Dakwah. Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat. 2004
Qordhowi, Yusuf. Fiqh Shiyam. Jakarta: Gema Insani Press. 2003
______________. Fatawa Qordhowi. Surabaya: Risalah Gusti. 1996
Shale. Et al. Asbabun Nuzul. Bandung: Diponegoro. 1982
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar