Tema:
“ANTARA KEBAIKAN DENGAN MANUSIA"
Oleh:
Otib Satibi Hidayat
Potensi Manusia
Manusia adalah makhluk yang paling mulia diciptakan Allah SWT bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Kemuliaan itu diwujudkan dalam kesempurnaan fisik dilengkapi dengan otak/akal pikiran yang dengan piranti tersebut manusia diharapkan dapat membuktikan nilai-nilai kemuliaan itu sendiri. Pada diri manusia secara fisik kita meiliki tubuh yang sangat baik, mampu mengoptimalkan diri melalui stimulasi otak, dan pada akhirnya manusia mampu berprestasi serta berperadaban yang semakin maju.
Kajian Surat At Tiin ayat 4 – 6
Janji Allah yang termaktub didalam Al Qur’an adalah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik, paling sempurna, dan paling mulia dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Kualifikasi seperti itu memiliki makna bahwa seyogianya manusia memiliki kesadaran diri yang tinggi, agar dalam kiprahnya di dunia ini tidak mencoreng apa yang telah dianugerahkan kepadanya.
Allah SWT berfirman didalam Al Qur’an surat At Tiin ayat 4 sampai dengan 6, yang artinya: ”Sungguh telah Allah ciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, kemudian mereka akan dikembalikan ke dalam tempat yang paling hina. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan baik, bagi mereka ada imbalan/pahala yang tak pernah putus.”
Dalam pandangan umum, kita terkadang mendengar bahwa yang dimaksud dengan tempat yang paling hina dalam konteks ayat tersebut adalah neraka. Padahal dalam riwayat lain yang dijelaskan oleh Ibnu Jarir dari Al Ufi dari Ibnu Abbas, mereka menjelaskan bahwa makna dari tempat yang paling hina adalah penyakit ”Pikun.” Balasan bagi orang-orang yang tidak pernah memperhatikan eksistensinya sebagai makhluk yang sempurna, dan salah jalan dalam mengisi lembaran hidupnya, maka azab Allah yang akan turun adalah kembali pada kondisi seperti bayi yang tidak mampu mengenali apapun di sekitarnya alias penyakit Pikun. Kepikunan ini memiliki makna sangat dalam, seperti:
Pikun dalam arti sesungguhnya setelah manusia menginjak usia lanjut
Pikun dalam arti/makna kehidupan manusia itu sendiri yang diibaratkan seperti hidupnya seorang bayi, yang tidak mengenal apapun di sekelilingnya, walaupun mereka pada dasarnya hidup sebagai manusia norma, dewasa, tapi tidak pernah mau mensyukuri dan mengkaji hakikat ajaran Allah SWT. Orang seperti ini punya mata, telinga, tangan, kaki, hati dan sebagainya, namun itu semua hanya dimanfaatkan untuk kesenangan belaka tanpa peduli pada aturan hidup yang Allah telah tetapkan.
Hal yang menarik dari ayat keenam surat At Tiin tersebut adalah bahwa ada eksepsi/pengecualian terhadap orang yang beriman dan senantiasa berbuat baik, maka mereka tidak akan dikembalikan pada tempat yang hina seperti yang dijelaskan di atas. Pertanyaannya adalah, mengapa hanya orang yang beriman dan senantiasa mengerjakan perbatan baik saja yang mendapatkan pengecualian? Tentu pada dasarnya itu adalah kehendak Allah semata. Namun sebagai hamba Allah yang memiliki akal pikiran, kita senantiasa dituntut untuk dapat mentadabburi ayat-ayat Allah agar sesuatu itu dapat menjadi pedoman bagi keselamatan hidup kita.
Bila hal ini kita renungkan, ternyata kepribadian orang yang beriman, tentu jiwanya akan senantiasa bersih karena setiap saat orang beriman menjaga dirinya dari segala yang akan mengotori ketaqwaannya kepada Allah. Dari jiwa yang bersih akan terpancar pikiran yang cernih, jauh dari kotoran dan penyakit apapun, maka orang yang beriman akan mendapat jaminan tidak akan masuk tempat yang hina apalagi penyakit pikun. Demikian pula dengan orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Dalam pandangan orang seperti ini, yang ada hanyalah hal-hal yang positif dalam pikiran dan perbuatannya. Tidak memikirkan untung rugi ataupun berbuat curang kepada orang lain. Maka dari kepribadian orang seperti ini akan muncul jiwa yang selamat dan terjaga dari hal-hal yang membuat sakitnya jiwa dan raga. Selamatlah dia dari penyakit pikun karena terbiasa berbuat baik dengan jaminan Allah akan terhindar dari tempat yang rendah.
Menurut ilmu Psikologi perkembangan, perbuatan baik yang pasti akan ada pada diri orang yang beriman dan beramal sholeh, itu akan mampu dilakukan oleh orang dengan tidak mengenal batas usia. Bahkan ada penemuan bahwa otak manusia apabila tetap difungsikan untuk kegiatan yang positif, maka hal itu akan mampu menjauhkan dari penyakit pikun. Posisi sel-sel saraf otak (dendrit) akan terus berfungsi dengan baik selama mendapatkan triger/getaran dari orang yang memfungsikannya dalam wujud aktivitas positif separti belajar. Fisik boleh tua dan berkurang kemampuannya, namun otak manusia tidak akan pernah berhenti berfungsi dengan baik jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif seperti belajar sepanjang hayat. Karena dalam pandangan ilmu Psikologi perkembangan otak manusia tidak akan mengenal batas/usia (unaging intellect).
Dengan demikian ada pembuktian dan pembenaran tergadap ajaran Islam yang diperkuat oleh disiplin ilmu pengetahuan kontemporer.
Analisis Kontekstual
Kecenderungan sifat dasar manusia amat sangat disayangkan, karena senantiasa mengarah pada mudahnya jiwa manusia terpengaruh dengan hal-hal yang negatif, dibandingkan yang positif. Sehingga kebaikan, kesempurnaan, dan kemulian yang telah dimiliki manusia sebagai anugrah dari Allah SWT, ternodai oleh ulah tangan manusia itu sendiri.
Allah SWT berfirman dalam surat Asy Syamsu ayat 8 - 10 yang artinya: ”maka aku ilhamkan pada diri setiap manusia sifat jahat dan sifat baik. Sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.”
Karunia Allah berupa tubuh dan wajah yang cantik atau cakep, karena salah jalan, banyak orang menjadikannya sebagai komoditas bisnis, dieksploitasi untuk bumbu perhelatan dunia perdagangan. Bukan untuk disyukuri dengan menjaga kesuciannya, dengan menutup aurat dan menjaga kehormatannya demi taat kepada ajaran Allah SWT.
Memiliki anak wanita yang cantik, malah didukung untuk bermaksiat bersama, hanya untuk mengejar popularitas sebagai artis idola antara anak dan orang tua. Jabatan yang telah diemban, malah dijadikan senjata untuk mempersulit urusan orang lain karena dorongan ego dan gengsi serta arogan, tak ingin orang lain menjadi pesaing dirinya, serta mengalahkannya. Bahkan kecerdasan akademik yang kita miliki terkadang membuat kita congkak, merasa paling hebat dan merendahkan orang lain.
Itulah beberapa analisis dari fenomena sosial dari kehidupan umat manusia pada umumnya.
Padahal Allah SWT menciptakan kehidupan dan kematian ini hanyalah untuk menguji siapakah diantara kita orang yang paling baik amal perbuatannya. (QS. Al Muluk ayat 2).
Bukan wajah yang cantik, popularitas yang tinggi, bukan pula kepandaian yang dibanggakan dari diri kita. Namun kebanyakan manusia tidak mau memahami kondisi seperti itu.
Performa Islam dalam ”Kebaikan”
Ajaran Islam sesungguhnya identik dengan kebaikan dalam hal apapun. Seperti yang tertulis dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad mengajarkan bahwa:
Islam menganjurkan senantiasa berbuat baik dalam segala hal (Hadits Qudsi)
Islam mengajarkan bahwa pada saat berperang tidak boleh menghancurkan rumah ibadah, tidak boleh membunuh orang tua, anak-anak, dan harus melindungi kaum wanita
Islam mengajarkan jika menyembelih, maka harus dengan cara yang baik dan tidak menyakiti hewan yang akan disembelih
Islam adalah satu satunya agama yang memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup auratnya agar terlindungi dari hal-hal yang negatif
Islam mengajarkan agar memperlakukan tawanan perang dengan sebaik-baiknya, dan
Rasul Muhammad memerintah di Madinah dengan membangun fondasi pemerintahan terbaik melalui pendekatan pluralisme dikalangan rakyatnya (Muslim, Yahudi, dan Nasrani), mendapat perlakuan yang adil dalam lindungan hukum Islam.
Hikmah dari Kebaikan
Dalam pandangan Allah, kebaikan yang muncul dari seorang muslim adalah cerminan dari kualitas keimanan dirinya kepada Allah SWT dan telah memiliki Aqidah/keyakinan yang benar (Aqidah Shohihah). Seseorang yang telah memiliki buah keimanan yang demikian, akan memiliki empat (4) indikasi sebagai berikut:
Hanya Allah yang menjadi puncak kecintannya (Allah Al Mahbuub)
Hanya Allah yang menjadi tujuan/yang dimaksud (Allah Al Makshuud)
Allah adalah raja yang harus ditaati (Al Malik Al Mutho’)
Menjadikan Allah sebagai Tuhan yang harus diibadahi/diabdi (Al Ilhul Ma’buud)
Prinsip-prinsip yang Perlu Ditaati
Agar diri kita senantiasa berada dalam kondisi mampu memelihara kebaikan yang telah Allah berikan kepada kita, maka seyogianya kita memiliki hal-hal sebagai berikut:
kita selayaknya selalu merasa terawasi oleh Allah SWT kapanpun dan dimanapun kita berada (Muroqobatullah)
senantiasa memelihara niat baik dalam hal apapun (Ihsanun Niyyah), dan
senantiasa berbaik sangka kepada Allah (Ihsanullah)
Akhirnya jika kita yakin dengan apa yang menjadi ajaran Allah dan rasulnya, maka renungkanlah jaminan Allah SWT dalam surat Ar Rahman ayat 60, yang artinya: ”tidak ada balasan kebaikan, kecuali mendapatkan kebaikan pula.”
Wallahu a’lam bis showab
Daftar Pustaka
Al Gazali. Menebus Dosa. Bandung: Pustaka Hidayah. 2006
________. Ihya’ Ulumiddin. Semarang: As Syfa’.1990
Hamka. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.1988
Husaini Bahesyti, Muhammad. Intisari Islam. Jakarta: Lentera Basritama. 2003
Masyhur, Mustafa. Fiqh Dakwah. Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat. 2004
Qordhowi, Yusuf. Fiqh Shiyam. Jakarta: Gema Insani Press. 2003
______________. Fatawa Qordhowi. Surabaya: Risalah Gusti. 1996
Shale. Et al. Asbabun Nuzul. Bandung: Diponegoro. 1982
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar