seseorang yang tetap bekerja meskipun tidak ada teman, itulah sesungguhnya pekerja sejati. karena dia bekerja untuk Allah bukan untuk dipuji.
orang yang bekerja dibelakang layar akan lebih ikhlas dibandingkan dengan yang di panggung, karena tidak banyak orang yang tahu perannya dan tidak banyak orang yang memujinya.
2 hal yang harus kita ingat: (1) kebaikan orang kepada kita dan (2) keburukan kita kepada orang lain.
2 hal yang harus kita lupakan: (1) kebaikan kita kepada orang lain, dan (2) keburukan kita kepada orang lain.
jika tidak ada yang dikorbankan, maka itu bukanlah perjuangan.
jika berdiri tegak tanpa ujian, maka itu bukanlah ketangguhan.
jika kemenangan diraih tanpa merangkak dari kejatuhan, maka itu bukanlah ketabahan.
jika ada yang dibanggakan, maka itu bukanlah kemuliaan.
jika Allah masih bersama kita, maka itu bukanlah penderitaan.
Senin, 19 Januari 2009
Minggu, 04 Januari 2009
“ REFLEKSI RAMADHAN BAGI ORANG YANG BERTAQWA”
“ REFLEKSI RAMADHAN BAGI ORANG YANG BERTAQWA”
Oleh:
Otib Satibi Hidayat
Intisari Makna Ramadhan
Ramadhan yang didalamnya begitu sarat dengan ibrah/pelajaran bagi kita, memesankan beberapa hal kepada orang-orang yang tulus ikhlas beribadah di dalamnya, dengan pesan-pesan sebagai berikut:
orang yang bertaqwa kepada Allah harus pandai mengendalikan diri dari segala bentuk hawa nafsu, sebagai cerminan keberhasilannya menjalankan ibadah puasa/shoum
orang yang bertaqwa kepada Allah harus berpedoman hanya pada Al Qur’an dan Sunnah dengan segala konsekuensinya, sebagai wujud nyata dari tilawah dan tadarus Qur’an selama bulan Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus memiliki rasa empati (mampu merasakan penderitaan orang lain), sebagai tindak lanjut dari rasa lapar dan hausnya berpuasa dibulan Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus menjadi orang yang dermawan, sebagai kelanjutan dari kebiasaan beramal sodaqoh selama bulan Ramadahan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus selalu menjaga kesucian dirinya dari segala macam kotoran kehidupan dunia, sebagai perwujudan dari kesucian diri kita dalam menjaga ibadah puasa Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus menjadi ahli ibadah, sebagai konsekuenasi dari terbiasanya kita memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus memiliki sifat solidaritas yang tinggi kepada sesama muslim khususnya, sebagai cerminan dari ibadah zakat fitrah yang kita keluarkan, dalam rangka berbagi kebahagiaan di hari idul Fitri.
Tuntutan Allah Pasca Ibadah Puasa Ramadhan
Manusia telah dituntut oleh Allah SWT untuk senantiasa meluruskan kehidupannya sampai saat kematian menjemputnya hanya pada ajaran dan jalan Allah semata. Allah berfirman dalam (Q.S. Ar Ruum (30) : 43): ..
Artinya:
”Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu pada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari (Kiamat) yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah ( ada yang di surga dan ada yang di neraka)”
Ayat ini mengisyaratkan bahwa akhir dari kehidupan ini perlu diupayakan oleh kita semua, apakah kita akan memilih surga atau neraka? Sebelum waktu penyesalan tiba kepada kita semua. Hal yang menarik dari ayat ini adalah Allah mencantumkan suatu pernyataan bahwa hari kiamat yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun. Tampaknya Allah SWT sangat faham dengan karakter manusia yang suka menunda-nunda untuk berbuat baik, melalaikan kesempatan beribadah, menyia-nyiakan usia, hanya karena terpengaruh oleh derasnya pengaruh kehidupan dunia. Tidak sadarkah kita hadirin yang berbahagia, bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, kita lahir kedunia ini tidak berdaya, tidak tahu apa-apa, kalau bukan karena kebesaran Allah mungkin kita bukan siapa-siapa.
Allah berfirman dalam (Q.S. An Nahl (16) : 78) ;
Artinya:
”dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia Allah memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur”
Hal yang menarik dari ayat di atas adalah bahwa Allah SWT telah memberikan 3 piranti dasar bagi setiap manusia untuk dijadikan media dalam rangka meningkatkan kualitas dirinya sebagai manusia, yaitu penglihatan (mata), pendengaran (Telinga), dan hati nurani. Pertanyannya adalah mengapa Allah SWT memberikan ketiga piranti tersebut? Ini yang patut kita renungkan sebagai orang yang mau berpkir, bahwa tidak mungkin Allah memberikan ketiga hal tersebut jika tidak memiliki kandungan makna yang mendalam.
Dalam pandangan ilmu psikologi perkembangan, mata adalah organ tubuh yang memiliki peranan penting dalam menangkap berbagai informasi baru yang dapat direkam, menjadi memori dan selanjutnya akan membentuk pengetahuan yang disimpan didalam sel-sel otak manusia. Dari situlah manusia memiliki ilmu pengetahuan berdasarkan peranan dan fungsi penglihatan.
Telinga adalah salah satu organ tubuh yang juga memiliki peranan dalam menangkap berbagai informasi melalui sistem pendengaran, yang selanjutnya informasi tersebut diproses dan disambungkan kedalam sistem otak manusia. Oleh sebab itu betapapun manusia tidak dapat melihat, namun melalui fungsi pendengarannya, akan tetap memiliki kemampuan untuk memiliki ilmu pengetahuan.
Sedangkan keberadaan hati nurani yang Allah berikan kepada kita, adalah sebagai puncak dari sistem jaringan informasi yang diperoleh baik melalui penglihatan maupun pendengaran, yang mampu mendorong seseorang melakukan sesuatu. Hati lah yang mengolah dan mendorong apakah kita akan berbuat suatu kebaikan ataukah keburukan.
Jadi seyogianya ketiga organ tersebutlah yang seharusnya kita kelola, kita kendalikan, jangan sampai tidak termanfaatkan untuk kebaikan.
Hadirin dan hadirot yang berbahagia, janganlah kita berbuat sesuatu yang mengundang murka Allah akibat salah memfungsikan ketiga amanat tersebut. Sebab Allah SWT berfirman dalam (Q.S. Al Isro (17) : 36) :
Artinya :
”Dan janganlah kalian mengikuti sesuatu yang kalian tidak ketahui, sebab pendengaran, penglihatan, dan hati nurani itu semua akan dimintai pertanggung jawabannya.”
Formula Memelihara Hikmah Ibadah Ramadhan
Renungkanlah ancaman Allah dalam hal tersebut bahwa: Pada hari perhitungan amal manusia, di hari itu Allah akan kunci mulut kita, Allah akan membuat tangan kita bicara, serta kaki kita akan menjadi saksi terhadap apa yang kita lakukan selama di dunia ini.
Ramadhan pun sebenarnya telah Allah sediakan sebagai waktu khusus untuk bertaubat bagi hamba-hambaNya yang berdosa dan ingin kembali mensucikan diri. Anjuran Allah bagi kita agar memiliki waktu-waktu khusus untuk beribadah, mensucikan diri, seperti ramadhan telah banyak Allah sampaikan didalam Al Qur’an, diantaranya Allah berfirman (QS. Al Mujammil (73) : 8) :
Artinya:
”Dan sebutlah asma Allah, serta beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan.”
Makna yang dimaksud dari ”watabattal ilaihi tabtiilaa”, menurut ahli tafsir memiliki maksud adalah:
Artinya: ”memutuskan segala urusan apapun dan menfokuskan/mengkonsentrasikan diri hanya untuk ibadah, serta memelihara perasaan larut dalam pengawasan Allah SWT.”
Bagaimanakah dengan kita, apakah telah memiliki dan mengatur waktu khusus untuk beribadah kepada Allah? Apakah ramadhan yang beberapa saat telah kita lewati, sudah kita jadikan waktu khusus untuk beribadah?
Hidup dalam naungan Al Qur’an begitu indah rasa dan nikmatnya. Tapi apakah keindahan dan kenikmatan tersebut pernah kita rasakan? Bukankah Allah juga menurunkan Al Qur’an kitab yang suci dan petunjuk kebenaran itu di malam bulan ramadhan? Sering kita mendengar dan merayakan malam nuzulul Qur’an, tetapi apakah yang kita dapatkan dari perayaan tersebut telah membuat kita menjadi seorang ahlul qur’an? Yaitu orang-orang-orang yang senantiasa membaca, mempelajari dan mengamalkan isi al Qur’an. Mungkin saat ini kita sudah merasa sempurna dalam memeluk Islam hanya dengan memenuhi rukun Islam yang 5, dan dengan membaca al Qur’an saja. Kita masih malas mempelajari kandungannya, bahkan terkadang kita suka menghindar untuk mengamalkan isinya.
Renungkanlah firman Allah dalam (Q.S. Az Zuhruf (43) : 44) :
Artinya:
”Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kalian akan dimintai pertanggung jawabannya.”
Ternyata sikap, kepedulian, dan kedekatan hidup kita dengan Al Qur’an itu akan menjadi salah satu hal, yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. Mudah-mudahan Allah mewariskan Al Qur’an ini kepada kita semua. Untuk itu janganlah kita mendzalimi diri kita sendiri, dan senantiasa lebih mengutamakan berbuat bagi.
Rasulullah SAW bersabda, diriwayatkan oleh Bukhori & Muslim:
Artinya:
”Barang siapa yang menegakkan sholat di bulan Ramadhan dengan iman dan menghisab diri, maka itu akan menghapus dosa-dosa sebelumnya.”
Telah kita ketahui semua bahwa, rasul Muhammad memberikan jaminan apabila kita mampu melaksanakan sholat di bulan Ramadhan, maka hal itu akan menghapus dosa-dosa kita sebelumnya. Prinsip dasar hadits ini sangat menarik untuk kita kaji bersama, bahwa sholat yang dimaksud adalah sholat yang dilandasi dengan keyakinan yang mantap (al Imanul Amiq) dan kemampuan berintrospeksi diri (muhasabah). Dua hal yang secara nyata telah diprediksi oleh rasul Muhammad bahwa hal itu amat sulit didapati pada diri seseorang ketika beribadah sholat. Banyak orang mampu melaksanakan sholat wajib maupun sunnah, tetapi akhlaknya tidak mencerminkan kandungan ibadah sholat. Kenapa hal tersebut bisa terjadi?
Kita terkadang lupa bahwa nabi Muhammad dan para sohabatnya sering menjadikan sholat sebagai media untuk mengadukan berbagai persoalan hidup. Huzaifah Ibnul Yaman pernah mengatakan bahwa jika rasul ditimpa perkara yang hebat dan berat, maka beliau menjadikan sholat sebagai penolong dirinya.
Bagaimana dengan kita, sudahkah melaksanakan sholat seperti beliau dan para sohabatnya? Potret pelaksanaan sholat diantara kita, masih diwarnai dengan sekedar mengugurkan suatu kewajiban, kurang tuma’ninah, tergesa-gesa, dan terkesan ingin cepat selesai.
Ingatkah kita dengan sunnah rasul Muhammad dalam masalah sholat tersebut, bahwa beliau pernah bersabda:
Artinya:
”Saat yang paling dekat antara hamba dengan Kholiqnya adalah diwaktu sujud, maka perbanyaklah kalian berdoa disaat tersebut.” (H.R. Tirmidzi)
Ada fenomena sosial yang kurang baik dikalangan ummat Islam pada saat setiap kali merayakan lebaran. Diantara kita ada yang secara sengaja atau tidak dan diakui atau tidak, ingin mearayakan lebaran dengan sesuatu yang baru. Dimulai dari pakaian baru, kendaraan baru, dan bahkan mungkin ada bisikan setan yang menghendaki agar kita merasa bangga, nyaman, tentram dengan masalah harta. Merasa sedih jika lebaran tanpa harta dan kemewahan. Secara tidak disadari, setan mendorong kita untuk pamer dengan apa yang kita miliki dihadapan orang lain.
Allah SWT berfirman dalam (Q.S. At Takatsur (102) : 1 – 8) bahwa sebaiknya kita jangan berbangga dan bermewah-mewahan yang berakibat kita lalai mengingat kematian, lupa akan halal dan haram, dan mengecilkan arti perhitungan dan azab Allah SWT.
Dalam hal ini ingatkah kita pada suatu hadits rasul, yang mengatakan bahwa:
Artinya:
”Tidak henti-hentinya berdiri setiap manusia dihari perhitungan, sampai mendapatkan 4 pertanyaan: yaitu (1) tentang umurnya untuk apa dihabiskan, (2) tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, (3) tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia belanjakan, (4) dan tentang jasadnya untuk kepentingan apa dia fungsikan. ” (H.R. Tirmidzi)
Cobalah sejenak kita perhatikan kenapa rasul menjelaskan bahwa ketika manusia ditanya tentang hartanya rasul menyebutkan 2 sub pertanyaan kepada setiap manusia, yaitu: (1) dari mana dia dapatkan dan (2) untuk apa dia belanjakan.
Menurut para ahli hadits, hal ini memberikan isyarat bahwa rasul faham betul dengan karakter manusia yang pada dasarnya mudah tergoda dengan harta dan gampang lupa dengan urusan halal dan haram dalam mencari harta tersebut. 2 sub pertanyaan tersebut akan dapat memberatkan kita di akherat, jika kita serakah membabi buta ketika mencari harta.
Berkaitan dengan paket ramadhan pun sebenarnya Allah berfirman dalam (Q.S. Al Baqoroh (2) : 188) : menjadikan salah satu ciri keberhasilan seseorang dari ibadah puasa ramadhannya adalah: tidak memakan harta dengan cara yang bathil, dan tidak melakukan risywah (sogok-menyogok).
Wallah a’lam bi Showab.
Daftar Pustaka
Al Gazali. Menebus Dosa. Bandung: Pustaka Hidayah. 2006
________. Ihya’ Ulumiddin. Semarang: As Syfa’.1990
Hamka. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.1988
Husaini Bahesyti, Muhammad. Intisari Islam. Jakarta: Lentera Basritama. 2003
Masyhur, Mustafa. Fiqh Dakwah. Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat. 2004
Qordhowi, Yusuf. Fiqh Shiyam. Jakarta: Gema Insani Press. 2003
______________. Fatawa Qordhowi. Surabaya: Risalah Gusti. 1996
Shale. Et al. Asbabun Nuzul. Bandung: Diponegoro. 1982
Oleh:
Otib Satibi Hidayat
Intisari Makna Ramadhan
Ramadhan yang didalamnya begitu sarat dengan ibrah/pelajaran bagi kita, memesankan beberapa hal kepada orang-orang yang tulus ikhlas beribadah di dalamnya, dengan pesan-pesan sebagai berikut:
orang yang bertaqwa kepada Allah harus pandai mengendalikan diri dari segala bentuk hawa nafsu, sebagai cerminan keberhasilannya menjalankan ibadah puasa/shoum
orang yang bertaqwa kepada Allah harus berpedoman hanya pada Al Qur’an dan Sunnah dengan segala konsekuensinya, sebagai wujud nyata dari tilawah dan tadarus Qur’an selama bulan Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus memiliki rasa empati (mampu merasakan penderitaan orang lain), sebagai tindak lanjut dari rasa lapar dan hausnya berpuasa dibulan Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus menjadi orang yang dermawan, sebagai kelanjutan dari kebiasaan beramal sodaqoh selama bulan Ramadahan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus selalu menjaga kesucian dirinya dari segala macam kotoran kehidupan dunia, sebagai perwujudan dari kesucian diri kita dalam menjaga ibadah puasa Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus menjadi ahli ibadah, sebagai konsekuenasi dari terbiasanya kita memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan
orang yang bertaqwa kepada Allah harus memiliki sifat solidaritas yang tinggi kepada sesama muslim khususnya, sebagai cerminan dari ibadah zakat fitrah yang kita keluarkan, dalam rangka berbagi kebahagiaan di hari idul Fitri.
Tuntutan Allah Pasca Ibadah Puasa Ramadhan
Manusia telah dituntut oleh Allah SWT untuk senantiasa meluruskan kehidupannya sampai saat kematian menjemputnya hanya pada ajaran dan jalan Allah semata. Allah berfirman dalam (Q.S. Ar Ruum (30) : 43): ..
Artinya:
”Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu pada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari (Kiamat) yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah ( ada yang di surga dan ada yang di neraka)”
Ayat ini mengisyaratkan bahwa akhir dari kehidupan ini perlu diupayakan oleh kita semua, apakah kita akan memilih surga atau neraka? Sebelum waktu penyesalan tiba kepada kita semua. Hal yang menarik dari ayat ini adalah Allah mencantumkan suatu pernyataan bahwa hari kiamat yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun. Tampaknya Allah SWT sangat faham dengan karakter manusia yang suka menunda-nunda untuk berbuat baik, melalaikan kesempatan beribadah, menyia-nyiakan usia, hanya karena terpengaruh oleh derasnya pengaruh kehidupan dunia. Tidak sadarkah kita hadirin yang berbahagia, bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, kita lahir kedunia ini tidak berdaya, tidak tahu apa-apa, kalau bukan karena kebesaran Allah mungkin kita bukan siapa-siapa.
Allah berfirman dalam (Q.S. An Nahl (16) : 78) ;
Artinya:
”dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia Allah memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur”
Hal yang menarik dari ayat di atas adalah bahwa Allah SWT telah memberikan 3 piranti dasar bagi setiap manusia untuk dijadikan media dalam rangka meningkatkan kualitas dirinya sebagai manusia, yaitu penglihatan (mata), pendengaran (Telinga), dan hati nurani. Pertanyannya adalah mengapa Allah SWT memberikan ketiga piranti tersebut? Ini yang patut kita renungkan sebagai orang yang mau berpkir, bahwa tidak mungkin Allah memberikan ketiga hal tersebut jika tidak memiliki kandungan makna yang mendalam.
Dalam pandangan ilmu psikologi perkembangan, mata adalah organ tubuh yang memiliki peranan penting dalam menangkap berbagai informasi baru yang dapat direkam, menjadi memori dan selanjutnya akan membentuk pengetahuan yang disimpan didalam sel-sel otak manusia. Dari situlah manusia memiliki ilmu pengetahuan berdasarkan peranan dan fungsi penglihatan.
Telinga adalah salah satu organ tubuh yang juga memiliki peranan dalam menangkap berbagai informasi melalui sistem pendengaran, yang selanjutnya informasi tersebut diproses dan disambungkan kedalam sistem otak manusia. Oleh sebab itu betapapun manusia tidak dapat melihat, namun melalui fungsi pendengarannya, akan tetap memiliki kemampuan untuk memiliki ilmu pengetahuan.
Sedangkan keberadaan hati nurani yang Allah berikan kepada kita, adalah sebagai puncak dari sistem jaringan informasi yang diperoleh baik melalui penglihatan maupun pendengaran, yang mampu mendorong seseorang melakukan sesuatu. Hati lah yang mengolah dan mendorong apakah kita akan berbuat suatu kebaikan ataukah keburukan.
Jadi seyogianya ketiga organ tersebutlah yang seharusnya kita kelola, kita kendalikan, jangan sampai tidak termanfaatkan untuk kebaikan.
Hadirin dan hadirot yang berbahagia, janganlah kita berbuat sesuatu yang mengundang murka Allah akibat salah memfungsikan ketiga amanat tersebut. Sebab Allah SWT berfirman dalam (Q.S. Al Isro (17) : 36) :
Artinya :
”Dan janganlah kalian mengikuti sesuatu yang kalian tidak ketahui, sebab pendengaran, penglihatan, dan hati nurani itu semua akan dimintai pertanggung jawabannya.”
Formula Memelihara Hikmah Ibadah Ramadhan
Renungkanlah ancaman Allah dalam hal tersebut bahwa: Pada hari perhitungan amal manusia, di hari itu Allah akan kunci mulut kita, Allah akan membuat tangan kita bicara, serta kaki kita akan menjadi saksi terhadap apa yang kita lakukan selama di dunia ini.
Ramadhan pun sebenarnya telah Allah sediakan sebagai waktu khusus untuk bertaubat bagi hamba-hambaNya yang berdosa dan ingin kembali mensucikan diri. Anjuran Allah bagi kita agar memiliki waktu-waktu khusus untuk beribadah, mensucikan diri, seperti ramadhan telah banyak Allah sampaikan didalam Al Qur’an, diantaranya Allah berfirman (QS. Al Mujammil (73) : 8) :
Artinya:
”Dan sebutlah asma Allah, serta beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan.”
Makna yang dimaksud dari ”watabattal ilaihi tabtiilaa”, menurut ahli tafsir memiliki maksud adalah:
Artinya: ”memutuskan segala urusan apapun dan menfokuskan/mengkonsentrasikan diri hanya untuk ibadah, serta memelihara perasaan larut dalam pengawasan Allah SWT.”
Bagaimanakah dengan kita, apakah telah memiliki dan mengatur waktu khusus untuk beribadah kepada Allah? Apakah ramadhan yang beberapa saat telah kita lewati, sudah kita jadikan waktu khusus untuk beribadah?
Hidup dalam naungan Al Qur’an begitu indah rasa dan nikmatnya. Tapi apakah keindahan dan kenikmatan tersebut pernah kita rasakan? Bukankah Allah juga menurunkan Al Qur’an kitab yang suci dan petunjuk kebenaran itu di malam bulan ramadhan? Sering kita mendengar dan merayakan malam nuzulul Qur’an, tetapi apakah yang kita dapatkan dari perayaan tersebut telah membuat kita menjadi seorang ahlul qur’an? Yaitu orang-orang-orang yang senantiasa membaca, mempelajari dan mengamalkan isi al Qur’an. Mungkin saat ini kita sudah merasa sempurna dalam memeluk Islam hanya dengan memenuhi rukun Islam yang 5, dan dengan membaca al Qur’an saja. Kita masih malas mempelajari kandungannya, bahkan terkadang kita suka menghindar untuk mengamalkan isinya.
Renungkanlah firman Allah dalam (Q.S. Az Zuhruf (43) : 44) :
Artinya:
”Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kalian akan dimintai pertanggung jawabannya.”
Ternyata sikap, kepedulian, dan kedekatan hidup kita dengan Al Qur’an itu akan menjadi salah satu hal, yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. Mudah-mudahan Allah mewariskan Al Qur’an ini kepada kita semua. Untuk itu janganlah kita mendzalimi diri kita sendiri, dan senantiasa lebih mengutamakan berbuat bagi.
Rasulullah SAW bersabda, diriwayatkan oleh Bukhori & Muslim:
Artinya:
”Barang siapa yang menegakkan sholat di bulan Ramadhan dengan iman dan menghisab diri, maka itu akan menghapus dosa-dosa sebelumnya.”
Telah kita ketahui semua bahwa, rasul Muhammad memberikan jaminan apabila kita mampu melaksanakan sholat di bulan Ramadhan, maka hal itu akan menghapus dosa-dosa kita sebelumnya. Prinsip dasar hadits ini sangat menarik untuk kita kaji bersama, bahwa sholat yang dimaksud adalah sholat yang dilandasi dengan keyakinan yang mantap (al Imanul Amiq) dan kemampuan berintrospeksi diri (muhasabah). Dua hal yang secara nyata telah diprediksi oleh rasul Muhammad bahwa hal itu amat sulit didapati pada diri seseorang ketika beribadah sholat. Banyak orang mampu melaksanakan sholat wajib maupun sunnah, tetapi akhlaknya tidak mencerminkan kandungan ibadah sholat. Kenapa hal tersebut bisa terjadi?
Kita terkadang lupa bahwa nabi Muhammad dan para sohabatnya sering menjadikan sholat sebagai media untuk mengadukan berbagai persoalan hidup. Huzaifah Ibnul Yaman pernah mengatakan bahwa jika rasul ditimpa perkara yang hebat dan berat, maka beliau menjadikan sholat sebagai penolong dirinya.
Bagaimana dengan kita, sudahkah melaksanakan sholat seperti beliau dan para sohabatnya? Potret pelaksanaan sholat diantara kita, masih diwarnai dengan sekedar mengugurkan suatu kewajiban, kurang tuma’ninah, tergesa-gesa, dan terkesan ingin cepat selesai.
Ingatkah kita dengan sunnah rasul Muhammad dalam masalah sholat tersebut, bahwa beliau pernah bersabda:
Artinya:
”Saat yang paling dekat antara hamba dengan Kholiqnya adalah diwaktu sujud, maka perbanyaklah kalian berdoa disaat tersebut.” (H.R. Tirmidzi)
Ada fenomena sosial yang kurang baik dikalangan ummat Islam pada saat setiap kali merayakan lebaran. Diantara kita ada yang secara sengaja atau tidak dan diakui atau tidak, ingin mearayakan lebaran dengan sesuatu yang baru. Dimulai dari pakaian baru, kendaraan baru, dan bahkan mungkin ada bisikan setan yang menghendaki agar kita merasa bangga, nyaman, tentram dengan masalah harta. Merasa sedih jika lebaran tanpa harta dan kemewahan. Secara tidak disadari, setan mendorong kita untuk pamer dengan apa yang kita miliki dihadapan orang lain.
Allah SWT berfirman dalam (Q.S. At Takatsur (102) : 1 – 8) bahwa sebaiknya kita jangan berbangga dan bermewah-mewahan yang berakibat kita lalai mengingat kematian, lupa akan halal dan haram, dan mengecilkan arti perhitungan dan azab Allah SWT.
Dalam hal ini ingatkah kita pada suatu hadits rasul, yang mengatakan bahwa:
Artinya:
”Tidak henti-hentinya berdiri setiap manusia dihari perhitungan, sampai mendapatkan 4 pertanyaan: yaitu (1) tentang umurnya untuk apa dihabiskan, (2) tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, (3) tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia belanjakan, (4) dan tentang jasadnya untuk kepentingan apa dia fungsikan. ” (H.R. Tirmidzi)
Cobalah sejenak kita perhatikan kenapa rasul menjelaskan bahwa ketika manusia ditanya tentang hartanya rasul menyebutkan 2 sub pertanyaan kepada setiap manusia, yaitu: (1) dari mana dia dapatkan dan (2) untuk apa dia belanjakan.
Menurut para ahli hadits, hal ini memberikan isyarat bahwa rasul faham betul dengan karakter manusia yang pada dasarnya mudah tergoda dengan harta dan gampang lupa dengan urusan halal dan haram dalam mencari harta tersebut. 2 sub pertanyaan tersebut akan dapat memberatkan kita di akherat, jika kita serakah membabi buta ketika mencari harta.
Berkaitan dengan paket ramadhan pun sebenarnya Allah berfirman dalam (Q.S. Al Baqoroh (2) : 188) : menjadikan salah satu ciri keberhasilan seseorang dari ibadah puasa ramadhannya adalah: tidak memakan harta dengan cara yang bathil, dan tidak melakukan risywah (sogok-menyogok).
Wallah a’lam bi Showab.
Daftar Pustaka
Al Gazali. Menebus Dosa. Bandung: Pustaka Hidayah. 2006
________. Ihya’ Ulumiddin. Semarang: As Syfa’.1990
Hamka. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.1988
Husaini Bahesyti, Muhammad. Intisari Islam. Jakarta: Lentera Basritama. 2003
Masyhur, Mustafa. Fiqh Dakwah. Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat. 2004
Qordhowi, Yusuf. Fiqh Shiyam. Jakarta: Gema Insani Press. 2003
______________. Fatawa Qordhowi. Surabaya: Risalah Gusti. 1996
Shale. Et al. Asbabun Nuzul. Bandung: Diponegoro. 1982
“MANUSIA MAKHLUK TERGANTUNG”
“MANUSIA MAKHLUK TERGANTUNG”
Oleh:
Otib Satibi Hidayat
Pendahuluan
Ayat yang pertama kali diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah tentang perintah membaca. Salah satu esensi dari perintah tersebut, manusia diminta untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui pengkajian pada diri manusia itu sendiri yang pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam kondisi tergantung.
Makna tergantung dalam konteks dan redaksi surat Al Alaq tersebut memiliki pemahaman yang sangat universal dan patut kita pelajari. Kajian pada kesempatan ini akan menggunakan pendekatan agama maupun ilmu psikologi perkembangan manusia.
Tadabbur surat Al Alaq ayat 2
Allah SWT berfirman didalam surat Al Alaq ayat kedua, yang artinya:
“Telah diciptakan manusia dalam kondisi tergantung/menggantung.”
Secara kontekstual sesuatu yang tergantung apapun itu wujudnya, tentu mata kita dapat menerjemahkan bahwa kondisi tersebut sangat rentan, sangat rawan, dan dalam posisi yang lemah, karena mudah terjatuh.
a. Pandangan Ilmu Psikologi Perkembangan
Bila hal itu kita hubungkan dengan ilmu Psikologi Perkembangan manusia, ternyata pada masa perkembangannya manusia mulai hidup sebagai janin dimulai dari masa Konsepsi. Pada masa ini segumpal daging atau “’alaqoh” dalam istilah Qur’an itu ternyata dalam kondisi menempel pada dinding rahim seorang ibu yang sedang hamil. Janin tersebut akan tumbuh dengan sehat mengikuti tahapan normal itu sangat tergantung pada Plasenta sebagai salah satu organ tubuh pensupley sari-sari makanan yang berasal dari yang ibu makan. Dalam proses ini benarlah Allah yang mengatakan bahwa sejak awal manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang tergantung dalam kondisi dan posisi apapun, seperti gambaran tersebut di atas.
Selanjutnya kita kaitkan kajian ini pada tahapan masa beberapa saat setelah kelahiran atau lebih dikenal dengan istilah Neo Natuse dalam Ilmu Psikologi Perkembangan. Pada masa Neo Natuse seorang anak manusia yang baru lahir ke dunia amat sangat berbeda dengan kondisi anak hewan atau binatang. Tanpa banyak mendapatkan bantuan yang berarti, seekor binatang yang baru lahir ternyata jauh lebih berkemampuan bila dibandingkan dengan anak manusia yang baru lahir. Anak manusia lahir membutuhkan pertolongan dokter atau minimalnya bidan dari kalangan paramedis. Agar dapat menjadi tumbuh dan berkembang, seorang bayi manusia sangat tergantung dari supleyan air susu ibunya. Bahkan agar mampu menjadi manusia normal dan berperadaban, setiap kita sangat bergantung pada orang lain seperti orang tua, guru, dan lingkungan di sekitarnya. Itulah hakikat manusia yang terkadang kita sangat jarang merenungkannya.
Seorang Plato bahkan berani mengemukakan teorinya tentang kehidupan manusia dengan istilah Zoon Politicon (manusia adalah makhluk yang tergantung kepada sesamanya/orang lain). Dengan demikian tepatlah kita menjadi pemeluk Islam, yang ternyata dalam ajarannya mampu membuktikan kebenaran hakiki yang teruji baik dari pendekatan dan disiplin apapun wujudnya.
b. Pandangan Ilmu Al Qur’an
Allah SWT berfirman didalam Al Qur’an surat An Najm ayat 39 yang artinya: “ dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh apapun selain apa yang dia telah usahakannya”
Ayat ini mengisyaratkan bahwa kemerdekaan hidup manusia itu Allah serahkan kepada diri manusia itu sendiri. Apakah mereka akan menjadi golongan orang-orang yang selamat atau sebaliknya. Apakah mereka akan memilih masuk surga atau neraka, semua itu tergantung pada apa yang manusia itu sendiri lakukan.
Apabila manusia menempuh jalan yang positif maka di dunia pun telah Allah siapkan sebagai upahnya sesuai kemampuan manusia itu sendiri. Demikian Allah jelaskan hal tersebut dalam surat Al An’am ayat 132, yang artinya: ” dan masing-masing manusia memperoleh derajat (prestasi) seimbang dengan apa yang dikerjakannya.”
Demikian juga dengan manusia yang senantiasa ingin memperturutkan hawa nafsunya, itu pun adalah otoritas dirinya sendiri. Allah hanya memfasilitasi hidup dengan dengan piranti keras dan lunak yang komprehensif. Manusialah yang harus memilih apakah dirinya akan dikotori oleh dosa atau sebaliknya. Allah berfirman dalam surat Al An’am yang artinya: “dan tidaklah seseorang membuat dosa, melainkan kemudhorotannya kembali kepada dirinya sendiri.”
Betapa besar rahmat dan kenikmatan dari Allah SWT, yang dianugrahkan kepada manusia di dunia ini, namun jalan untuk menikmatinya itu adalah tergantung pada pilihan manusia itu sendiri, sebagai makhluk yang diberi kebebasan.
Pelajaran yang dapat diambil
Sesuai dengan tujuan utama dari diturunkannya ayat pertama, Allah memiliki maksud agar manusia jangan sampai salah memilih jalan hidup. Allah tetap berharap agar manusia dapat menjadi makhluk yang benar-benar sempurna yang sengaja Allah ciptakan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Namun pada akhirnya hal itu semua kembali kepada diri kita masing-masing.
Hikmah yang dapat kita petik dari kandungan surat Al Alaq ayat kedua tersebut adalah:
kita ternyata bukan siapa-siapa, kita hanyalah makhluk yang sangat lemah/dhoif
kita sangat tergantung kepada orang lain dalam segala hal
kita tidak akan berdaya upaya jika tanpa keberadaan orang lain
kitalah yang menentukan pilihan apakah diri kita akan tergolong orang-orang selamat ataukah celaka
kita juga tidak akan dapat menghindar dari risiko, apa yang telah kita pilih dalam hidup di dunia ini.
Rasul Muhammad pernah bersabda dalam Hadits dari Abu Musa Al Asy Ari, yang artinya: ”Perumpamaan orang-orang yang berdoa (berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdo’a, adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhori)
Sikap positif yang harus kita miliki dalam kondisi seperti ini adalah selalu berusaha dan berdo’a dengan tetap memelihara kedekatan diri kepada Allah SWT dalam setiap keadaan dan kesempatan (Quwwatu Shilah Billah).
Karena hanya dengan hal seperti itulah diri kita akan tetap terkontrol, terjaga, termotivasi, terbimbing, dan terarah pada jalan yang diridhoi Allah SWT.
Dalam kondisi seperti ini, hati kita akan senantiasa hidup dengan sentuhan ayat dan petunjuk Allah, dan tidak seperti orang-orang yang jauh dari Allah yang hatinya akan mati, keras membatu, dan tidak mudah menerima kebenaran dari Allah.
Wallahu a’lam bis showab
Daftar Pustaka
Al Gazali. Menebus Dosa. Bandung: Pustaka Hidayah. 2006
________. Ihya’ Ulumiddin. Semarang: As Syfa’.1990
Hamka. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.1988
Husaini Bahesyti, Muhammad. Intisari Islam. Jakarta: Lentera Basritama. 2003
Masyhur, Mustafa. Fiqh Dakwah. Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat. 2004
Qordhowi, Yusuf. Fiqh Shiyam. Jakarta: Gema Insani Press. 2003
______________. Fatawa Qordhowi. Surabaya: Risalah Gusti. 1996
Shale. Et al. Asbabun Nuzul. Bandung: Diponegoro. 1982
Oleh:
Otib Satibi Hidayat
Pendahuluan
Ayat yang pertama kali diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah tentang perintah membaca. Salah satu esensi dari perintah tersebut, manusia diminta untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui pengkajian pada diri manusia itu sendiri yang pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam kondisi tergantung.
Makna tergantung dalam konteks dan redaksi surat Al Alaq tersebut memiliki pemahaman yang sangat universal dan patut kita pelajari. Kajian pada kesempatan ini akan menggunakan pendekatan agama maupun ilmu psikologi perkembangan manusia.
Tadabbur surat Al Alaq ayat 2
Allah SWT berfirman didalam surat Al Alaq ayat kedua, yang artinya:
“Telah diciptakan manusia dalam kondisi tergantung/menggantung.”
Secara kontekstual sesuatu yang tergantung apapun itu wujudnya, tentu mata kita dapat menerjemahkan bahwa kondisi tersebut sangat rentan, sangat rawan, dan dalam posisi yang lemah, karena mudah terjatuh.
a. Pandangan Ilmu Psikologi Perkembangan
Bila hal itu kita hubungkan dengan ilmu Psikologi Perkembangan manusia, ternyata pada masa perkembangannya manusia mulai hidup sebagai janin dimulai dari masa Konsepsi. Pada masa ini segumpal daging atau “’alaqoh” dalam istilah Qur’an itu ternyata dalam kondisi menempel pada dinding rahim seorang ibu yang sedang hamil. Janin tersebut akan tumbuh dengan sehat mengikuti tahapan normal itu sangat tergantung pada Plasenta sebagai salah satu organ tubuh pensupley sari-sari makanan yang berasal dari yang ibu makan. Dalam proses ini benarlah Allah yang mengatakan bahwa sejak awal manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang tergantung dalam kondisi dan posisi apapun, seperti gambaran tersebut di atas.
Selanjutnya kita kaitkan kajian ini pada tahapan masa beberapa saat setelah kelahiran atau lebih dikenal dengan istilah Neo Natuse dalam Ilmu Psikologi Perkembangan. Pada masa Neo Natuse seorang anak manusia yang baru lahir ke dunia amat sangat berbeda dengan kondisi anak hewan atau binatang. Tanpa banyak mendapatkan bantuan yang berarti, seekor binatang yang baru lahir ternyata jauh lebih berkemampuan bila dibandingkan dengan anak manusia yang baru lahir. Anak manusia lahir membutuhkan pertolongan dokter atau minimalnya bidan dari kalangan paramedis. Agar dapat menjadi tumbuh dan berkembang, seorang bayi manusia sangat tergantung dari supleyan air susu ibunya. Bahkan agar mampu menjadi manusia normal dan berperadaban, setiap kita sangat bergantung pada orang lain seperti orang tua, guru, dan lingkungan di sekitarnya. Itulah hakikat manusia yang terkadang kita sangat jarang merenungkannya.
Seorang Plato bahkan berani mengemukakan teorinya tentang kehidupan manusia dengan istilah Zoon Politicon (manusia adalah makhluk yang tergantung kepada sesamanya/orang lain). Dengan demikian tepatlah kita menjadi pemeluk Islam, yang ternyata dalam ajarannya mampu membuktikan kebenaran hakiki yang teruji baik dari pendekatan dan disiplin apapun wujudnya.
b. Pandangan Ilmu Al Qur’an
Allah SWT berfirman didalam Al Qur’an surat An Najm ayat 39 yang artinya: “ dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh apapun selain apa yang dia telah usahakannya”
Ayat ini mengisyaratkan bahwa kemerdekaan hidup manusia itu Allah serahkan kepada diri manusia itu sendiri. Apakah mereka akan menjadi golongan orang-orang yang selamat atau sebaliknya. Apakah mereka akan memilih masuk surga atau neraka, semua itu tergantung pada apa yang manusia itu sendiri lakukan.
Apabila manusia menempuh jalan yang positif maka di dunia pun telah Allah siapkan sebagai upahnya sesuai kemampuan manusia itu sendiri. Demikian Allah jelaskan hal tersebut dalam surat Al An’am ayat 132, yang artinya: ” dan masing-masing manusia memperoleh derajat (prestasi) seimbang dengan apa yang dikerjakannya.”
Demikian juga dengan manusia yang senantiasa ingin memperturutkan hawa nafsunya, itu pun adalah otoritas dirinya sendiri. Allah hanya memfasilitasi hidup dengan dengan piranti keras dan lunak yang komprehensif. Manusialah yang harus memilih apakah dirinya akan dikotori oleh dosa atau sebaliknya. Allah berfirman dalam surat Al An’am yang artinya: “dan tidaklah seseorang membuat dosa, melainkan kemudhorotannya kembali kepada dirinya sendiri.”
Betapa besar rahmat dan kenikmatan dari Allah SWT, yang dianugrahkan kepada manusia di dunia ini, namun jalan untuk menikmatinya itu adalah tergantung pada pilihan manusia itu sendiri, sebagai makhluk yang diberi kebebasan.
Pelajaran yang dapat diambil
Sesuai dengan tujuan utama dari diturunkannya ayat pertama, Allah memiliki maksud agar manusia jangan sampai salah memilih jalan hidup. Allah tetap berharap agar manusia dapat menjadi makhluk yang benar-benar sempurna yang sengaja Allah ciptakan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Namun pada akhirnya hal itu semua kembali kepada diri kita masing-masing.
Hikmah yang dapat kita petik dari kandungan surat Al Alaq ayat kedua tersebut adalah:
kita ternyata bukan siapa-siapa, kita hanyalah makhluk yang sangat lemah/dhoif
kita sangat tergantung kepada orang lain dalam segala hal
kita tidak akan berdaya upaya jika tanpa keberadaan orang lain
kitalah yang menentukan pilihan apakah diri kita akan tergolong orang-orang selamat ataukah celaka
kita juga tidak akan dapat menghindar dari risiko, apa yang telah kita pilih dalam hidup di dunia ini.
Rasul Muhammad pernah bersabda dalam Hadits dari Abu Musa Al Asy Ari, yang artinya: ”Perumpamaan orang-orang yang berdoa (berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdo’a, adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhori)
Sikap positif yang harus kita miliki dalam kondisi seperti ini adalah selalu berusaha dan berdo’a dengan tetap memelihara kedekatan diri kepada Allah SWT dalam setiap keadaan dan kesempatan (Quwwatu Shilah Billah).
Karena hanya dengan hal seperti itulah diri kita akan tetap terkontrol, terjaga, termotivasi, terbimbing, dan terarah pada jalan yang diridhoi Allah SWT.
Dalam kondisi seperti ini, hati kita akan senantiasa hidup dengan sentuhan ayat dan petunjuk Allah, dan tidak seperti orang-orang yang jauh dari Allah yang hatinya akan mati, keras membatu, dan tidak mudah menerima kebenaran dari Allah.
Wallahu a’lam bis showab
Daftar Pustaka
Al Gazali. Menebus Dosa. Bandung: Pustaka Hidayah. 2006
________. Ihya’ Ulumiddin. Semarang: As Syfa’.1990
Hamka. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.1988
Husaini Bahesyti, Muhammad. Intisari Islam. Jakarta: Lentera Basritama. 2003
Masyhur, Mustafa. Fiqh Dakwah. Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat. 2004
Qordhowi, Yusuf. Fiqh Shiyam. Jakarta: Gema Insani Press. 2003
______________. Fatawa Qordhowi. Surabaya: Risalah Gusti. 1996
Shale. Et al. Asbabun Nuzul. Bandung: Diponegoro. 1982
Sabtu, 03 Januari 2009
“ANTARA KEBAIKAN DENGAN MANUSIA"
Tema:
“ANTARA KEBAIKAN DENGAN MANUSIA"
Oleh:
Otib Satibi Hidayat
Potensi Manusia
Manusia adalah makhluk yang paling mulia diciptakan Allah SWT bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Kemuliaan itu diwujudkan dalam kesempurnaan fisik dilengkapi dengan otak/akal pikiran yang dengan piranti tersebut manusia diharapkan dapat membuktikan nilai-nilai kemuliaan itu sendiri. Pada diri manusia secara fisik kita meiliki tubuh yang sangat baik, mampu mengoptimalkan diri melalui stimulasi otak, dan pada akhirnya manusia mampu berprestasi serta berperadaban yang semakin maju.
Kajian Surat At Tiin ayat 4 – 6
Janji Allah yang termaktub didalam Al Qur’an adalah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik, paling sempurna, dan paling mulia dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Kualifikasi seperti itu memiliki makna bahwa seyogianya manusia memiliki kesadaran diri yang tinggi, agar dalam kiprahnya di dunia ini tidak mencoreng apa yang telah dianugerahkan kepadanya.
Allah SWT berfirman didalam Al Qur’an surat At Tiin ayat 4 sampai dengan 6, yang artinya: ”Sungguh telah Allah ciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, kemudian mereka akan dikembalikan ke dalam tempat yang paling hina. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan baik, bagi mereka ada imbalan/pahala yang tak pernah putus.”
Dalam pandangan umum, kita terkadang mendengar bahwa yang dimaksud dengan tempat yang paling hina dalam konteks ayat tersebut adalah neraka. Padahal dalam riwayat lain yang dijelaskan oleh Ibnu Jarir dari Al Ufi dari Ibnu Abbas, mereka menjelaskan bahwa makna dari tempat yang paling hina adalah penyakit ”Pikun.” Balasan bagi orang-orang yang tidak pernah memperhatikan eksistensinya sebagai makhluk yang sempurna, dan salah jalan dalam mengisi lembaran hidupnya, maka azab Allah yang akan turun adalah kembali pada kondisi seperti bayi yang tidak mampu mengenali apapun di sekitarnya alias penyakit Pikun. Kepikunan ini memiliki makna sangat dalam, seperti:
Pikun dalam arti sesungguhnya setelah manusia menginjak usia lanjut
Pikun dalam arti/makna kehidupan manusia itu sendiri yang diibaratkan seperti hidupnya seorang bayi, yang tidak mengenal apapun di sekelilingnya, walaupun mereka pada dasarnya hidup sebagai manusia norma, dewasa, tapi tidak pernah mau mensyukuri dan mengkaji hakikat ajaran Allah SWT. Orang seperti ini punya mata, telinga, tangan, kaki, hati dan sebagainya, namun itu semua hanya dimanfaatkan untuk kesenangan belaka tanpa peduli pada aturan hidup yang Allah telah tetapkan.
Hal yang menarik dari ayat keenam surat At Tiin tersebut adalah bahwa ada eksepsi/pengecualian terhadap orang yang beriman dan senantiasa berbuat baik, maka mereka tidak akan dikembalikan pada tempat yang hina seperti yang dijelaskan di atas. Pertanyaannya adalah, mengapa hanya orang yang beriman dan senantiasa mengerjakan perbatan baik saja yang mendapatkan pengecualian? Tentu pada dasarnya itu adalah kehendak Allah semata. Namun sebagai hamba Allah yang memiliki akal pikiran, kita senantiasa dituntut untuk dapat mentadabburi ayat-ayat Allah agar sesuatu itu dapat menjadi pedoman bagi keselamatan hidup kita.
Bila hal ini kita renungkan, ternyata kepribadian orang yang beriman, tentu jiwanya akan senantiasa bersih karena setiap saat orang beriman menjaga dirinya dari segala yang akan mengotori ketaqwaannya kepada Allah. Dari jiwa yang bersih akan terpancar pikiran yang cernih, jauh dari kotoran dan penyakit apapun, maka orang yang beriman akan mendapat jaminan tidak akan masuk tempat yang hina apalagi penyakit pikun. Demikian pula dengan orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Dalam pandangan orang seperti ini, yang ada hanyalah hal-hal yang positif dalam pikiran dan perbuatannya. Tidak memikirkan untung rugi ataupun berbuat curang kepada orang lain. Maka dari kepribadian orang seperti ini akan muncul jiwa yang selamat dan terjaga dari hal-hal yang membuat sakitnya jiwa dan raga. Selamatlah dia dari penyakit pikun karena terbiasa berbuat baik dengan jaminan Allah akan terhindar dari tempat yang rendah.
Menurut ilmu Psikologi perkembangan, perbuatan baik yang pasti akan ada pada diri orang yang beriman dan beramal sholeh, itu akan mampu dilakukan oleh orang dengan tidak mengenal batas usia. Bahkan ada penemuan bahwa otak manusia apabila tetap difungsikan untuk kegiatan yang positif, maka hal itu akan mampu menjauhkan dari penyakit pikun. Posisi sel-sel saraf otak (dendrit) akan terus berfungsi dengan baik selama mendapatkan triger/getaran dari orang yang memfungsikannya dalam wujud aktivitas positif separti belajar. Fisik boleh tua dan berkurang kemampuannya, namun otak manusia tidak akan pernah berhenti berfungsi dengan baik jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif seperti belajar sepanjang hayat. Karena dalam pandangan ilmu Psikologi perkembangan otak manusia tidak akan mengenal batas/usia (unaging intellect).
Dengan demikian ada pembuktian dan pembenaran tergadap ajaran Islam yang diperkuat oleh disiplin ilmu pengetahuan kontemporer.
Analisis Kontekstual
Kecenderungan sifat dasar manusia amat sangat disayangkan, karena senantiasa mengarah pada mudahnya jiwa manusia terpengaruh dengan hal-hal yang negatif, dibandingkan yang positif. Sehingga kebaikan, kesempurnaan, dan kemulian yang telah dimiliki manusia sebagai anugrah dari Allah SWT, ternodai oleh ulah tangan manusia itu sendiri.
Allah SWT berfirman dalam surat Asy Syamsu ayat 8 - 10 yang artinya: ”maka aku ilhamkan pada diri setiap manusia sifat jahat dan sifat baik. Sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.”
Karunia Allah berupa tubuh dan wajah yang cantik atau cakep, karena salah jalan, banyak orang menjadikannya sebagai komoditas bisnis, dieksploitasi untuk bumbu perhelatan dunia perdagangan. Bukan untuk disyukuri dengan menjaga kesuciannya, dengan menutup aurat dan menjaga kehormatannya demi taat kepada ajaran Allah SWT.
Memiliki anak wanita yang cantik, malah didukung untuk bermaksiat bersama, hanya untuk mengejar popularitas sebagai artis idola antara anak dan orang tua. Jabatan yang telah diemban, malah dijadikan senjata untuk mempersulit urusan orang lain karena dorongan ego dan gengsi serta arogan, tak ingin orang lain menjadi pesaing dirinya, serta mengalahkannya. Bahkan kecerdasan akademik yang kita miliki terkadang membuat kita congkak, merasa paling hebat dan merendahkan orang lain.
Itulah beberapa analisis dari fenomena sosial dari kehidupan umat manusia pada umumnya.
Padahal Allah SWT menciptakan kehidupan dan kematian ini hanyalah untuk menguji siapakah diantara kita orang yang paling baik amal perbuatannya. (QS. Al Muluk ayat 2).
Bukan wajah yang cantik, popularitas yang tinggi, bukan pula kepandaian yang dibanggakan dari diri kita. Namun kebanyakan manusia tidak mau memahami kondisi seperti itu.
Performa Islam dalam ”Kebaikan”
Ajaran Islam sesungguhnya identik dengan kebaikan dalam hal apapun. Seperti yang tertulis dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad mengajarkan bahwa:
Islam menganjurkan senantiasa berbuat baik dalam segala hal (Hadits Qudsi)
Islam mengajarkan bahwa pada saat berperang tidak boleh menghancurkan rumah ibadah, tidak boleh membunuh orang tua, anak-anak, dan harus melindungi kaum wanita
Islam mengajarkan jika menyembelih, maka harus dengan cara yang baik dan tidak menyakiti hewan yang akan disembelih
Islam adalah satu satunya agama yang memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup auratnya agar terlindungi dari hal-hal yang negatif
Islam mengajarkan agar memperlakukan tawanan perang dengan sebaik-baiknya, dan
Rasul Muhammad memerintah di Madinah dengan membangun fondasi pemerintahan terbaik melalui pendekatan pluralisme dikalangan rakyatnya (Muslim, Yahudi, dan Nasrani), mendapat perlakuan yang adil dalam lindungan hukum Islam.
Hikmah dari Kebaikan
Dalam pandangan Allah, kebaikan yang muncul dari seorang muslim adalah cerminan dari kualitas keimanan dirinya kepada Allah SWT dan telah memiliki Aqidah/keyakinan yang benar (Aqidah Shohihah). Seseorang yang telah memiliki buah keimanan yang demikian, akan memiliki empat (4) indikasi sebagai berikut:
Hanya Allah yang menjadi puncak kecintannya (Allah Al Mahbuub)
Hanya Allah yang menjadi tujuan/yang dimaksud (Allah Al Makshuud)
Allah adalah raja yang harus ditaati (Al Malik Al Mutho’)
Menjadikan Allah sebagai Tuhan yang harus diibadahi/diabdi (Al Ilhul Ma’buud)
Prinsip-prinsip yang Perlu Ditaati
Agar diri kita senantiasa berada dalam kondisi mampu memelihara kebaikan yang telah Allah berikan kepada kita, maka seyogianya kita memiliki hal-hal sebagai berikut:
kita selayaknya selalu merasa terawasi oleh Allah SWT kapanpun dan dimanapun kita berada (Muroqobatullah)
senantiasa memelihara niat baik dalam hal apapun (Ihsanun Niyyah), dan
senantiasa berbaik sangka kepada Allah (Ihsanullah)
Akhirnya jika kita yakin dengan apa yang menjadi ajaran Allah dan rasulnya, maka renungkanlah jaminan Allah SWT dalam surat Ar Rahman ayat 60, yang artinya: ”tidak ada balasan kebaikan, kecuali mendapatkan kebaikan pula.”
Wallahu a’lam bis showab
Daftar Pustaka
Al Gazali. Menebus Dosa. Bandung: Pustaka Hidayah. 2006
________. Ihya’ Ulumiddin. Semarang: As Syfa’.1990
Hamka. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.1988
Husaini Bahesyti, Muhammad. Intisari Islam. Jakarta: Lentera Basritama. 2003
Masyhur, Mustafa. Fiqh Dakwah. Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat. 2004
Qordhowi, Yusuf. Fiqh Shiyam. Jakarta: Gema Insani Press. 2003
______________. Fatawa Qordhowi. Surabaya: Risalah Gusti. 1996
Shale. Et al. Asbabun Nuzul. Bandung: Diponegoro. 1982
“ANTARA KEBAIKAN DENGAN MANUSIA"
Oleh:
Otib Satibi Hidayat
Potensi Manusia
Manusia adalah makhluk yang paling mulia diciptakan Allah SWT bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Kemuliaan itu diwujudkan dalam kesempurnaan fisik dilengkapi dengan otak/akal pikiran yang dengan piranti tersebut manusia diharapkan dapat membuktikan nilai-nilai kemuliaan itu sendiri. Pada diri manusia secara fisik kita meiliki tubuh yang sangat baik, mampu mengoptimalkan diri melalui stimulasi otak, dan pada akhirnya manusia mampu berprestasi serta berperadaban yang semakin maju.
Kajian Surat At Tiin ayat 4 – 6
Janji Allah yang termaktub didalam Al Qur’an adalah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik, paling sempurna, dan paling mulia dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Kualifikasi seperti itu memiliki makna bahwa seyogianya manusia memiliki kesadaran diri yang tinggi, agar dalam kiprahnya di dunia ini tidak mencoreng apa yang telah dianugerahkan kepadanya.
Allah SWT berfirman didalam Al Qur’an surat At Tiin ayat 4 sampai dengan 6, yang artinya: ”Sungguh telah Allah ciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, kemudian mereka akan dikembalikan ke dalam tempat yang paling hina. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan baik, bagi mereka ada imbalan/pahala yang tak pernah putus.”
Dalam pandangan umum, kita terkadang mendengar bahwa yang dimaksud dengan tempat yang paling hina dalam konteks ayat tersebut adalah neraka. Padahal dalam riwayat lain yang dijelaskan oleh Ibnu Jarir dari Al Ufi dari Ibnu Abbas, mereka menjelaskan bahwa makna dari tempat yang paling hina adalah penyakit ”Pikun.” Balasan bagi orang-orang yang tidak pernah memperhatikan eksistensinya sebagai makhluk yang sempurna, dan salah jalan dalam mengisi lembaran hidupnya, maka azab Allah yang akan turun adalah kembali pada kondisi seperti bayi yang tidak mampu mengenali apapun di sekitarnya alias penyakit Pikun. Kepikunan ini memiliki makna sangat dalam, seperti:
Pikun dalam arti sesungguhnya setelah manusia menginjak usia lanjut
Pikun dalam arti/makna kehidupan manusia itu sendiri yang diibaratkan seperti hidupnya seorang bayi, yang tidak mengenal apapun di sekelilingnya, walaupun mereka pada dasarnya hidup sebagai manusia norma, dewasa, tapi tidak pernah mau mensyukuri dan mengkaji hakikat ajaran Allah SWT. Orang seperti ini punya mata, telinga, tangan, kaki, hati dan sebagainya, namun itu semua hanya dimanfaatkan untuk kesenangan belaka tanpa peduli pada aturan hidup yang Allah telah tetapkan.
Hal yang menarik dari ayat keenam surat At Tiin tersebut adalah bahwa ada eksepsi/pengecualian terhadap orang yang beriman dan senantiasa berbuat baik, maka mereka tidak akan dikembalikan pada tempat yang hina seperti yang dijelaskan di atas. Pertanyaannya adalah, mengapa hanya orang yang beriman dan senantiasa mengerjakan perbatan baik saja yang mendapatkan pengecualian? Tentu pada dasarnya itu adalah kehendak Allah semata. Namun sebagai hamba Allah yang memiliki akal pikiran, kita senantiasa dituntut untuk dapat mentadabburi ayat-ayat Allah agar sesuatu itu dapat menjadi pedoman bagi keselamatan hidup kita.
Bila hal ini kita renungkan, ternyata kepribadian orang yang beriman, tentu jiwanya akan senantiasa bersih karena setiap saat orang beriman menjaga dirinya dari segala yang akan mengotori ketaqwaannya kepada Allah. Dari jiwa yang bersih akan terpancar pikiran yang cernih, jauh dari kotoran dan penyakit apapun, maka orang yang beriman akan mendapat jaminan tidak akan masuk tempat yang hina apalagi penyakit pikun. Demikian pula dengan orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Dalam pandangan orang seperti ini, yang ada hanyalah hal-hal yang positif dalam pikiran dan perbuatannya. Tidak memikirkan untung rugi ataupun berbuat curang kepada orang lain. Maka dari kepribadian orang seperti ini akan muncul jiwa yang selamat dan terjaga dari hal-hal yang membuat sakitnya jiwa dan raga. Selamatlah dia dari penyakit pikun karena terbiasa berbuat baik dengan jaminan Allah akan terhindar dari tempat yang rendah.
Menurut ilmu Psikologi perkembangan, perbuatan baik yang pasti akan ada pada diri orang yang beriman dan beramal sholeh, itu akan mampu dilakukan oleh orang dengan tidak mengenal batas usia. Bahkan ada penemuan bahwa otak manusia apabila tetap difungsikan untuk kegiatan yang positif, maka hal itu akan mampu menjauhkan dari penyakit pikun. Posisi sel-sel saraf otak (dendrit) akan terus berfungsi dengan baik selama mendapatkan triger/getaran dari orang yang memfungsikannya dalam wujud aktivitas positif separti belajar. Fisik boleh tua dan berkurang kemampuannya, namun otak manusia tidak akan pernah berhenti berfungsi dengan baik jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif seperti belajar sepanjang hayat. Karena dalam pandangan ilmu Psikologi perkembangan otak manusia tidak akan mengenal batas/usia (unaging intellect).
Dengan demikian ada pembuktian dan pembenaran tergadap ajaran Islam yang diperkuat oleh disiplin ilmu pengetahuan kontemporer.
Analisis Kontekstual
Kecenderungan sifat dasar manusia amat sangat disayangkan, karena senantiasa mengarah pada mudahnya jiwa manusia terpengaruh dengan hal-hal yang negatif, dibandingkan yang positif. Sehingga kebaikan, kesempurnaan, dan kemulian yang telah dimiliki manusia sebagai anugrah dari Allah SWT, ternodai oleh ulah tangan manusia itu sendiri.
Allah SWT berfirman dalam surat Asy Syamsu ayat 8 - 10 yang artinya: ”maka aku ilhamkan pada diri setiap manusia sifat jahat dan sifat baik. Sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.”
Karunia Allah berupa tubuh dan wajah yang cantik atau cakep, karena salah jalan, banyak orang menjadikannya sebagai komoditas bisnis, dieksploitasi untuk bumbu perhelatan dunia perdagangan. Bukan untuk disyukuri dengan menjaga kesuciannya, dengan menutup aurat dan menjaga kehormatannya demi taat kepada ajaran Allah SWT.
Memiliki anak wanita yang cantik, malah didukung untuk bermaksiat bersama, hanya untuk mengejar popularitas sebagai artis idola antara anak dan orang tua. Jabatan yang telah diemban, malah dijadikan senjata untuk mempersulit urusan orang lain karena dorongan ego dan gengsi serta arogan, tak ingin orang lain menjadi pesaing dirinya, serta mengalahkannya. Bahkan kecerdasan akademik yang kita miliki terkadang membuat kita congkak, merasa paling hebat dan merendahkan orang lain.
Itulah beberapa analisis dari fenomena sosial dari kehidupan umat manusia pada umumnya.
Padahal Allah SWT menciptakan kehidupan dan kematian ini hanyalah untuk menguji siapakah diantara kita orang yang paling baik amal perbuatannya. (QS. Al Muluk ayat 2).
Bukan wajah yang cantik, popularitas yang tinggi, bukan pula kepandaian yang dibanggakan dari diri kita. Namun kebanyakan manusia tidak mau memahami kondisi seperti itu.
Performa Islam dalam ”Kebaikan”
Ajaran Islam sesungguhnya identik dengan kebaikan dalam hal apapun. Seperti yang tertulis dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad mengajarkan bahwa:
Islam menganjurkan senantiasa berbuat baik dalam segala hal (Hadits Qudsi)
Islam mengajarkan bahwa pada saat berperang tidak boleh menghancurkan rumah ibadah, tidak boleh membunuh orang tua, anak-anak, dan harus melindungi kaum wanita
Islam mengajarkan jika menyembelih, maka harus dengan cara yang baik dan tidak menyakiti hewan yang akan disembelih
Islam adalah satu satunya agama yang memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup auratnya agar terlindungi dari hal-hal yang negatif
Islam mengajarkan agar memperlakukan tawanan perang dengan sebaik-baiknya, dan
Rasul Muhammad memerintah di Madinah dengan membangun fondasi pemerintahan terbaik melalui pendekatan pluralisme dikalangan rakyatnya (Muslim, Yahudi, dan Nasrani), mendapat perlakuan yang adil dalam lindungan hukum Islam.
Hikmah dari Kebaikan
Dalam pandangan Allah, kebaikan yang muncul dari seorang muslim adalah cerminan dari kualitas keimanan dirinya kepada Allah SWT dan telah memiliki Aqidah/keyakinan yang benar (Aqidah Shohihah). Seseorang yang telah memiliki buah keimanan yang demikian, akan memiliki empat (4) indikasi sebagai berikut:
Hanya Allah yang menjadi puncak kecintannya (Allah Al Mahbuub)
Hanya Allah yang menjadi tujuan/yang dimaksud (Allah Al Makshuud)
Allah adalah raja yang harus ditaati (Al Malik Al Mutho’)
Menjadikan Allah sebagai Tuhan yang harus diibadahi/diabdi (Al Ilhul Ma’buud)
Prinsip-prinsip yang Perlu Ditaati
Agar diri kita senantiasa berada dalam kondisi mampu memelihara kebaikan yang telah Allah berikan kepada kita, maka seyogianya kita memiliki hal-hal sebagai berikut:
kita selayaknya selalu merasa terawasi oleh Allah SWT kapanpun dan dimanapun kita berada (Muroqobatullah)
senantiasa memelihara niat baik dalam hal apapun (Ihsanun Niyyah), dan
senantiasa berbaik sangka kepada Allah (Ihsanullah)
Akhirnya jika kita yakin dengan apa yang menjadi ajaran Allah dan rasulnya, maka renungkanlah jaminan Allah SWT dalam surat Ar Rahman ayat 60, yang artinya: ”tidak ada balasan kebaikan, kecuali mendapatkan kebaikan pula.”
Wallahu a’lam bis showab
Daftar Pustaka
Al Gazali. Menebus Dosa. Bandung: Pustaka Hidayah. 2006
________. Ihya’ Ulumiddin. Semarang: As Syfa’.1990
Hamka. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.1988
Husaini Bahesyti, Muhammad. Intisari Islam. Jakarta: Lentera Basritama. 2003
Masyhur, Mustafa. Fiqh Dakwah. Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat. 2004
Qordhowi, Yusuf. Fiqh Shiyam. Jakarta: Gema Insani Press. 2003
______________. Fatawa Qordhowi. Surabaya: Risalah Gusti. 1996
Shale. Et al. Asbabun Nuzul. Bandung: Diponegoro. 1982
Materi Pengajian/Lq: “RT CELEBRITY”
“RT CELEBRITY”
Oleh:
Otib Satibi Hidayat
Latar Belakang:
· Banyak info RT Celebrity yang hancur, ditayangkan di program TV
· Padahal ketika tayangan tentang cerita percintaannya (sebelum sampai saat perkawinan sangat luar biasa)
· Kenapa terjadi demikian?
Akar Masalah:
· Fondasi RT dan latar belakang ber RT (kemesraan sebelum sampai saat perkawinan) Celebrity jauh dari ajaran Islam
· RT Celebrity hanya dilandasi cinta fisik bukan karena cinta dari Allah
· Banyak RT Celebrity berakhir dengan perceraian karena pemahaman mereka terhadap “Perceraian” sangat dangkal
Pembahasan:
Kedudukan RT dalam Islam
QS. Ar Ruum (30 : 21) :
a. Pentingnya membangun RT yang bernuansa Islam (Pra, Proses, Pasca Nikah),
b. Kedudukan istri harus menjadi penenang, damai dan nyaman hidup suami (Litaskunuu ilaiha),
c. Perlu dimilikinya oleh setiap pasangan RT bahwa cinta-kasih sayang itu datangnya dari Allah SWT/ bukan karena faktor fisik belaka (waja’ala bainakum mawaddatan warohmah)
Hakikat Nikah/RT dalam Islam
Bukti keikutsertaan umat Islam terhadap sunnah muakadah (utama) = An Nikaahu sunnati faman rogiba ‘an sunnatii falaisa minnii.
Bukti ”separuh” kesempurnaan keislaman seseorang muslim (An Nikaahu nisfuddiini)
Wahana pembentukan kader Islam yang handal QS. An Nisa (4 : 9)
Hakikat “ Perceraian” dalam pandangan Islam
HR. Bukhori & Muslim:
” Abghodull halaali ’indallah At Tholaq” (sesuatu hal yang dibenci namun halal disisi Allah adalah ’perceraian’/Talaq”)
Makna dibenci:
· Allah sangat tidak suka/benci termasuk terhadap orang yang melakukakan perceraian, tanpa sebab yang sya’i
· Allah maha tahu dampak yang akan muncul dari akibat perceraian (Psikologis, norma sosial, keberlanjutan program pendidikan anak, hukum sosial, dan status sosial pelaku = janda/duda)
Makna halal:
· Allah maha tahu karakter manusia yang memiliki emosi, nafsu, dan kemampuan/kekuasaan (laki/perempuan)
· Allah memberi toleransi terhadap pelaku perceraian dengan alasan yang sya’i
Tiket masuk surga dengan cinta abadi:
· HR. Ummu Salamah:
” Ayyumam roatun maatat wazaujuha ’anhaa roodhin, dakholatil jannah” = (apabila salah seorang diantara pasangan suami istri meninggal, dan pasangan yang ditinggalkannya ”roodhin”/suka/cinta, maka hal itu akan mengantarkannya ke dalam surga).
· Perlunya memelihara rasa cinta/kasih sayang terhadap pasangan RT setiap saat sampai saat kematian menjemput
Kiat memelihara kasih-sayang/cinta dalam RT yang Islami:
Perkataan Imam Ahmad:
” ’aqlul mat’ati jamaaluha, wajamaalur rojoli ”aqluhu” = kecerdasan seorang istri itu terletak pada kecantikannya, dan ketampanan seorang suami itu terletak pada kecerdasannya.
· Banyak info RT Celebrity yang hancur, ditayangkan di program TV
· Padahal ketika tayangan tentang cerita percintaannya (sebelum sampai saat perkawinan sangat luar biasa)
· Kenapa terjadi demikian?
Akar Masalah:
· Fondasi RT dan latar belakang ber RT (kemesraan sebelum sampai saat perkawinan) Celebrity jauh dari ajaran Islam
· RT Celebrity hanya dilandasi cinta fisik bukan karena cinta dari Allah
· Banyak RT Celebrity berakhir dengan perceraian karena pemahaman mereka terhadap “Perceraian” sangat dangkal
Pembahasan:
Kedudukan RT dalam Islam
QS. Ar Ruum (30 : 21) :
a. Pentingnya membangun RT yang bernuansa Islam (Pra, Proses, Pasca Nikah),
b. Kedudukan istri harus menjadi penenang, damai dan nyaman hidup suami (Litaskunuu ilaiha),
c. Perlu dimilikinya oleh setiap pasangan RT bahwa cinta-kasih sayang itu datangnya dari Allah SWT/ bukan karena faktor fisik belaka (waja’ala bainakum mawaddatan warohmah)
Hakikat Nikah/RT dalam Islam
Bukti keikutsertaan umat Islam terhadap sunnah muakadah (utama) = An Nikaahu sunnati faman rogiba ‘an sunnatii falaisa minnii.
Bukti ”separuh” kesempurnaan keislaman seseorang muslim (An Nikaahu nisfuddiini)
Wahana pembentukan kader Islam yang handal QS. An Nisa (4 : 9)
Hakikat “ Perceraian” dalam pandangan Islam
HR. Bukhori & Muslim:
” Abghodull halaali ’indallah At Tholaq” (sesuatu hal yang dibenci namun halal disisi Allah adalah ’perceraian’/Talaq”)
Makna dibenci:
· Allah sangat tidak suka/benci termasuk terhadap orang yang melakukakan perceraian, tanpa sebab yang sya’i
· Allah maha tahu dampak yang akan muncul dari akibat perceraian (Psikologis, norma sosial, keberlanjutan program pendidikan anak, hukum sosial, dan status sosial pelaku = janda/duda)
Makna halal:
· Allah maha tahu karakter manusia yang memiliki emosi, nafsu, dan kemampuan/kekuasaan (laki/perempuan)
· Allah memberi toleransi terhadap pelaku perceraian dengan alasan yang sya’i
Tiket masuk surga dengan cinta abadi:
· HR. Ummu Salamah:
” Ayyumam roatun maatat wazaujuha ’anhaa roodhin, dakholatil jannah” = (apabila salah seorang diantara pasangan suami istri meninggal, dan pasangan yang ditinggalkannya ”roodhin”/suka/cinta, maka hal itu akan mengantarkannya ke dalam surga).
· Perlunya memelihara rasa cinta/kasih sayang terhadap pasangan RT setiap saat sampai saat kematian menjemput
Kiat memelihara kasih-sayang/cinta dalam RT yang Islami:
Perkataan Imam Ahmad:
” ’aqlul mat’ati jamaaluha, wajamaalur rojoli ”aqluhu” = kecerdasan seorang istri itu terletak pada kecantikannya, dan ketampanan seorang suami itu terletak pada kecerdasannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
